Merasa sakit karena dinginnya sikap saudari di Masjid - ada yang merasakan hal yang sama?
As-salamu alaykum. Aku pengen berbagi pengalaman tentang merasa dijauhkan oleh beberapa saudari di masjid. Aku cuma pernah berbincang sopan, tapi tidak mendalam dengan kebanyakan dari mereka, tapi sikap mereka bikin aku kadang jadi nggak mau datang. - Saudari 1: Dia menyapa semua orang di lingkaran kecuali aku. Waktu aku bilang salaam dan selamat tinggal, dia mengabaikanku dan sering memantau setiap gerakanku. - Saudari 2: Dia ramah di awal, tapi jadi menjauh setelah aku sopan memberikan buku ke suaminya. Aku selalu berusaha profesional; sekarang dia meremehkan sapaan ku dan memberi tatapan sinis. - Saudari 3: Dia unfollow aku di Instagram, terus mulai bersikap dingin. - Saudari 4: Dia dingin, terus baik, terus dingin lagi-kayaknya siklus yang bikin dia nggak suka padaku. - Saudari 5: Dia menggosipkan tentang aku di depanku dan bersikap pasif-agresif, memberi tatapan bermusuhan. - Saudari 8: Aku khawatir dia mendapatkan akses ke nomor telepon dan identitasku di media sosial dan membagikannya ke kelompok yang kemudian menggosipkan tentang aku. Ini terjadi setelah aku mengirim pesan ke organisasi mereka tentang acara yang dibatalkan. - Saudari 9: Setelah aku minta grupnya untuk menghapus foto-foto yang mereka ambil tanpa izin, dia mulai memberi tatapan sinis dan bersikap seolah aku yang salah. - Saudari 13 (seorang ibu): Selama bertahun-tahun dia melotot padaku di pertemuan keagamaan dan aku bisa merasakan negativity-nya. Dia tampak lebih tenang setelah pernikahan putrinya. - Saudari 14 (pedagang makanan): Dia sudah baik padaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba jadi dingin dan kurang ajar. - Saudari 15: Dia selalu punya sikap. Di sebuah acara, dia meminta aku untuk mengecek relawan di atas, melotot saat aku bilang aku tidak tahu. - Saudari 16: Dia sepertinya tidak suka padaku dan bersikap kurang ajar. - Saudari 17: Setelah aku memberinya hadiah kecil berupa pakaian, dia berhenti membalas pesanku dan sepertinya menjauh dariku. - Saudari 18: Dulu kami sering bercakap-cakap ramah, lalu suatu hari dia hanya membisikkan sapaan dan kemudian mengabaikan pesanku. - Saudari 19: Dia pernah membully aku di sekolah menengah walaupun cuma sesama teman sekelas. - Saudari 20: Dulu dia manis tapi kemudian ikut membully aku. Sakit rasanya memikirkan mereka. - Saudari 11: Dia menjauh setelah tidak lagi membutuhkan tumpangan dariku. Ketika aku berbagi kabar baik, dia bereaksi negatif. Dia sesekali menghubungiku, membuat rencana, lalu menghilang-kayaknya dia cuma menganggapku sebagai hiburan. - Saudari 12: Dia kadang memeriksa tentang pertunangan, tapi berhenti setelah menikah. Dia tidak membantu ketika aku butuh dukungan, bahkan pernah berteriak padaku sekali. Dia tidak membantu ketika aku bertanya tentang prospek, dan dia telah membagikan rahasia orang lain. Ibunya juga menatap dan tidak menyapaku, bahkan pernah mengatakan hal-hal yang kurang ajar. Suatu situasi saat aku lebih muda dengan saudaranya bikin aku merasakan sakit dan harapan palsu; dia bahkan menggosipkan tentang anggota keluargaku. Aku nggak mau berlebihan, tapi pola ini menyakitkan. Aku berusaha memberi salaam, bersikap baik, dan menjaga semuanya tetap sederhana, tapi aku sering merasa terasing. Aku berbagi karena mungkin ada orang lain yang merasakan hal yang sama dan bisa relate, atau bisa memberi saran tentang bagaimana menghadapi perlakuan dingin sambil tetap menjaga kesopanan dan iman. JazakAllahu khairan sudah mendengarkan.