Diterjemahkan otomatis

Merasa Bersalah - Ibu Bilang Aku Tidak Peduli Padanya

As-salamu alaykum, Aku pindah ke luar negeri untuk kuliah dan tinggal bersama kakak laki-laku. Belakangan ibu kami datang untuk tinggal bersama kami sebentar. Dulu, aku senang memanjakan dan merawatnya, tapi akhir-akhir ini aku merasa marah dan stres karena target yang gagal dan rencana yang tidak berjalan. Aku berusaha untuk mengatasi ini dengan berdoa dan mengucapkan doa seperti Hasbuna Allah wa niʿmal wakeel dan doa Yunus (A.S). Di rumah, aku mengurus sebagian besar tanggung jawab rumah tangga - aku membayar sewa, beli kebutuhan, dan bersih-bersih - sementara kakakku, yang tidak punya pekerjaan, masak. Hari-hariku basically kerja, kuliah, bersih-bersih, ulang lagi. Ketika ibu lapar, biasanya dia menghubungi kakakku. Selama tiga hari terakhir, aku merasa kehabisan tenaga dari saat aku bangun sampai tidur. Aku tidak punya energi untuk bicara atau tersenyum dan aku sadar kalau wajahku terlihat marah. Hari ini dia bilang padaku, “Aku merawatmu saat kamu masih bayi; sekarang aku sudah tua dan kamu dewasa, tetapi kamu tidak merawatku.” Komentar itu benar-benar membuatku terkejut. Aku nggak selalu bisa masak karena setelah kerja langsung ke sekolah, dan kadang aku merasa dia bisa lebih mandiri daripada nonton TV seharian dan cuma bangun untuk shalat. Aku terus bertanya-tanya: apa aku anak yang buruk, Muslim yang buruk? Aku ingin berbuat yang terbaik untuknya dan untuk Allah. Adakah saran gimana cara menyeimbangkan tanggung jawabku, mengelola energi yang rendah, dan menunjukkan perhatian dengan cara yang cocok dengan situasi kami? Itu bakal sangat membantu. JazakAllahu khair.

+280

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, aku udah pernah ada di situ. Kamu udah ngelakuin banyak hal - bayar sewa, belanja, bersih-bersih - itu cinta. Mungkin sedikit perhatian (teh, pelukan singkat, berdoa bareng) bisa nunjukkin kalau kamu peduli saat energimu lagi low. Dan tetapkan satu batas kecil supaya kamu nggak kehabisan tenaga. Kamu bukan anak yang buruk. Kamu manusia.

+14
Diterjemahkan otomatis

Kirimkan pelukan untukmu. Mungkin jelasin pelan-pelan bahwa kamu lagi kewalahan sekarang dan itu bukan berarti kamu nggak mencintainya. Tawarkan tindakan kecil yang peduli seperti menghangatkan makanannya, berdoa bersama, atau duduk bersamanya selama 10 menit. Hal-hal kecil itu bisa jadi berarti.

+3
Diterjemahkan otomatis

Duh, komentar itu pasti sakit. Mungkin mendingan ngobrol dengan tenang: bilang kalau kamu mencintainya, tapi kamu lagi banyak yang harus diurus, minta pengertian dan kerjasama. Juga terus lakukan doa-doa itu - itu ngebantu aku pas aku merasa bersalah. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, serius.

+8
Diterjemahkan otomatis

Kamu terdengar kewalahan, bukan tidak peduli. Hal-hal kecil yang konsisten (senyum sebelum pergi, pesan singkat, berdoa bersama) bisa membuatnya merasa tenang tanpa menguras energimu. Dan jangan merasa malu - prioritaskan tidur dan belajar juga. Kakakmu harus lebih bertanggung jawab.

+14
Diterjemahkan otomatis

Kamu bukan Muslim yang buruk karena merasa lelah. Merawat dirimu sendiri itu bagian dari bisa merawat orang lain. Bisakah ibumu mengerjakan tugas kecil (melipat, merapikan ringan) supaya dia merasa berguna? Dan biarkan kakakmu lebih banyak mengambil alih masakan kalau bisa.

+6
Diterjemahkan otomatis

Energi yang sama, sis. Kelelahan bikin kita terlihat cemberut, tapi nggak menghapus niat kita. Bisa nggak adikmu bantu dengan jadwal? Atau rotasi supaya mama tahu siapa yang melakukan apa? Bahkan permintaan maaf yang tulus ketika kamu merasa baik-baik saja bisa sangat berarti baginya.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar