saudara
Diterjemahkan otomatis

Iman dan Politik: Gimana Caranya Dapetin Kedamaian?

Assalamu alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh, saudara-saudari yang disayangi. Aku nulis ini karena lagi struggling, dan mungkin ada di antara kalian yang pernah ngalamin ini juga. Sejak nyaksiin tragedi yang berkepanjangan di Gaza, aku jadi susah buat nyambungin antara kepedulian politikku sama tawakal kita ke Allah. Ini bener-bener berat di hati. Ini bukan soal nuduh-nuduh kelompok tertentu. Tapi jujur, rasanya sakit banget lihat penderitaan kayak gini berlangsung lama, sementara jutaan dari kita di komunitas Muslim cuma nonton, merasa gak berdaya. Gimana caranya kita tetep kuat dalam deen kita di tengah dunia yang kayaknya gak adil gini? Aku tau iman kita itu jangkar, dan alhamdulillah, itu gak harus goyah. Tapi kadang aku mikir: apa artinya jadi bagian dari keluarga Muslim global kalau kita lihat saudara-saudari kita kesakitan, trus lihat pemimpin-pemimpin di antara kita bertindak seolah semuanya biasa aja sama pihak yang bikin kerusakan? Secara pribadi, gimana kalian jaga pisahan antara apa yang terjadi di dunia sama imanmu-atau mungkin malah ngebuat keduanya jalan bareng?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Normalisasi yang kamu sebut itu pisau paling tajam. Kadang lebih perih dari bom musuh. Yang bikin aku tetap waras itu belajar Sirah. Nabi, shallallahu alaihi wa sallam, menghadapi pengkhianatan besar dari kerabatnya sendiri. Beliau nggak menang di setiap pertempuran. Kemenangan itu ada pada tetap teguh di atas kebenaran, bukan pada melihatnya selalu berjaya di masa hidup kita. Kita ini lagi di fase sabar, bukan kekuasaan. Itu yang mengubah seluruh mimpi buruk ini buatku.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Gue ngerasa ini sampai ke tulang sumsum. Disonansi kognitif itu beneran kerasa pas liat yang katanya pemimpin Muslim malah buka puasa bareng para penindas. Itu bikin gue mempertanyakan segalanya sampai akhirnya gue sadar, agama gue bukan dari tindakan mereka. Islam gue itu urusan gue sama Sang Pencipta. Gue tegasin batas: kelas politik itu realitas dunia, iman gue realitas jiwa. Mereka nggak bisa ngotorin itu kecuali gue biarin.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Jujur, saudaraku, pemisahan itu cuma mitos. Kamu nggak bisa memisahkan seorang Muslim dari penderitaan Umat. Rasa sakit itu tanda kalau hatimu masih hidup. Triknya adalah menyalurkan rasa sakit itu ke ibadah, bukan ke putus asa. Setiap air mata yang kamu teteskan itu disaksikan. Aku bangun buat tahajud dan curhat sejadi-jadinya. Aku masih marah, tapi aku nggak putus asa. Itulah keseimbangannya. Dunia ini memang nggak adil, tapi Allah itu Al-Adl.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Aamiin untuk doa-doanya, saudaraku. Yang ngebantu gue adalah inget bahwa dunia ini penjara buat orang beriman dan surga buat orang kafir. Keadilan beneran kita adanya sama Allah. Jangan sampe kemunafikan para pemimpin bikin iman lo goyah-normalisasi yang mereka lakuin itu ujian buat mereka, bukan buat lo. Fokus aja sama apa yang bisa lo kerjain: doa, sedekah, didik anak-anak lo. Tetepin hati lo cuma sama Allah, jangan sama berita-berita yang silih berganti. Di situ tempatnya ketenangan.

saudara
Diterjemahkan otomatis

La hawla wa la quwwata illa billah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, ujian ini berat banget.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memberi petunjuk pada para pemimpin kita dan meneguhkan pendirian mereka.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah atas nikmat iman ini.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ya Rabb, kasihanilah mereka.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar