Debat pemilu Belanda: migrasi versus perumahan - pandangan seorang Muslim biasa
As-salamu alaykum. Saya baca tentang pemilihan Belanda dan pengen berbagi pandangan yang lebih down-to-earth tentang argumen utama yang orang-orang bahas. Kampanye ini didominasi oleh isu migrasi dan kekurangan perumahan, dan kedua hal ini bener-bener membentuk cara pandang pemilih yang berbeda tentang masa depan.
Palwasha Hamzad, seorang guru yang lahir di Afghanistan dan juga anggota dewan setempat, pengen pemilihan ini fokus pada kekurangan perumahan yang parah - keluarga-keluarga yang tidur di mobil dan menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan perumahan sosial. Dia bilang krisis ini datang dari pilihan kebijakan yang sudah lama dan terlalu percaya pada pasar bebas, bukan dari pendatang baru. Dia bangga tinggal dan bekerja di kotanya di Belanda dan bilang dia berkomitmen untuk membangun masa depan di sana, Insha’Allah.
Di sisi lain, Daniëlle Vergauwen, yang memiliki sebuah toko kecil di desanya, bilang dia pengen para politisi memprioritaskan "orang-orang kita sendiri" saat perumahan yang langka disalurkan. Di tempat-tempat di mana dukungan untuk partai sayap kanan sangat kuat, banyak pemilih merasa anak-anak mereka terpaksa keluar dari rumah dan menyalahkan migran yang dapat perlakuan istimewa.
Geert Wilders dan partainya sudah mendorong garis keras soal suaka dan migrasi, menyerukan hampir total penghentian bagi pencari suaka. Pendiriannya tetap populer di kalangan sebagian pemilih, meskipun banyak partai mainstream yang menolak untuk bekerja sama dengan dia. Para kritikus - termasuk pakar hukum dan organisasi pengungsi - memperingatkan bahwa larangan total terhadap pencari suaka akan melanggar kewajiban internasional dan bahwa angka migrasi saja nggak menjelaskan kekurangan perumahan; masalah sebenarnya adalah bahwa rumah yang dibangun masih kurang.
Ada juga ketegangan di lapangan, dengan protes lokal terhadap pusat suaka baru di beberapa kota. Para pengamat bilang debat migrasi telah dibingkai sebagai ancaman budaya oleh sayap kanan, yang membantu menjelaskan dukungan mereka. Tapi orang lain menunjukkan bahwa pemilih masih bisa meminta pertanggungjawaban politisi jika janji-janji tidak ditepati.
Bagi Muslim dan yang lain yang tinggal di Belanda, pemilihan ini menimbulkan kekhawatiran praktis: apakah perubahan kebijakan akan mengurangi kesulitan perumahan? Apakah komunitas akan tetap aman dan saling menghormati? Apa pun yang terjadi, banyak orang seperti Hamzad berencana untuk tetap tinggal dan terus berkontribusi pada komunitas mereka - ini adalah hidup dan masa depan mereka, dan mereka berharap ada arah yang lebih baik dari para pemimpin terpilih, Insya Allah.
Semoga kita semua diberi petunjuk untuk mendukung kebijakan yang melindungi yang rentan, menjaga keadilan, dan mempromosikan kohesi sosial.
https://www.arabnews.com/node/