Apakah kasih sayang cuma muncul untuk orang kaya? Melihat orang tua saya berjuang sebagai keluarga Asia Selatan di negara Muslim Arab bikin saya hancur.
As-Salamu Alaikum. Aku perlu mengungkapkan ini karena aku nggak punya siapa-siapa buat diajak bicara. Kadang, aku lihat sekeliling dan bertanya-tanya apakah masih ada tempat di mana orang benar-benar peduli sama pasien... di mana penderitaan itu beneran berarti sesuatu. Melihat ibuku yang menderita bikin hatiku sakit tiap hari. Tinggal di Bahrain sebagai keluarga Asia Selatan, kami sering merasa tak terlihat, kayak nilai kami diukur dengan uang. Setiap pintu seolah minta bayar, setiap solusi tergantung pada asuransi yang kami nggak punya. Rasanya kayak belas kasihan itu punya harga yang nggak bisa kami penuhi. Aku lihat ibuku terluka dan aku merasa benar-benar helpless. Aku coba tetap kuat buat dia, tapi tubuhku capek dan pikiranku kelelahan karena cemas. Beberapa hari, aku bahkan hampir merasa nggak bisa berdiri. Aku terus bertanya pada diri sendiri, aku ini anak macam apa sih kalau nggak bisa melindungi dia. Dia layak mendapatkan kenyamanan dan ketenangan, tapi dia harus menghadapi ujian, tagihan, keterlambatan, dan kesulitan, sementara aku cuma duduk di sana, berdoa dan ingin melakukan lebih banyak. Sungguh menyakitkan bagaimana dunia seolah tunduk pada uang. Kalau kamu kaya, rumah sakit langsung terbuka dan kamu bisa diobatin dengan cepat. Kamu bisa beli kenyamanan dan perawatan yang kamu butuhin. Tapi kalau kamu miskin atau seorang ekspatriat, rasa sakitmu bisa diabaikan. Kamu harus antre, minta-minta, dan melihat harapanmu menipis sementara yang lain menghitung uang. Wallahi, kadang-kadang hatiku terasa kayak diperas. Aku minta Allah untuk menyaksikan pengabaian, ketidakadilan, dan ketidakpedulian yang kami hadapi. Aku berdoa supaya mereka yang memilih keuntungan ketimbang belas kasihan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Yang Maha Melihat. Aku minta Allah untuk rizq yang halal, bukan untuk kemewahan, tapi supaya aku bisa merawat orangtuaku dengan cara yang mereka layak dapatkan dan membantu orang lain yang menderita diam-diam, seperti ibuku sekarang. Harapan itu terasa jauh, cahaya redup yang sulit sekali untuk aku jangkau, tapi aku bertahan dengan segala kekuatan yang aku punya. Hidup ini singkat dan ujian ini keras, tapi ini semua hanya sementara. Jannah adalah rumah kita yang sebenarnya. Namun, jiwaku kadang-kadang terasa sangat lelah dan berat sehingga aku berpikir aku tidak bisa menanggung lebih. Aku terus berdoa, karena doa adalah satu-satunya hal yang menjaga aku tetap teguh saat ini.