Diterjemahkan otomatis

Menghadapi rasa bersalah dari orang tua yang nggak mau mengakui kesalahan mereka - butuh saran.

As-salamu alaykum. Aku tumbuh di rumah yang beracun - mengalami kekerasan fisik, emosional, dan verbal. Aku keluar secepatnya dan sekarang tinggal sekitar setengah jam jauh, tapi jarang balik. Setiap kunjungan bikin aku cemas sebelumnya dan selama aku di sana. Masih ada teriakan, ibu dan kakakku hampir tidak bicara, orang tuaku terus-menerus bertengkar, dan ibuku menghabiskan waktunya saat berkunjung untuk mengeluh tentang ayah dan kakakku seolah aku adalah tempat sampah emosionalnya. Dia sudah melakukan ini sejak aku remaja. Itu sebabnya aku menghindari pulang, tapi aku terus saja dituduh: "Kamu tidak mencintai kami," "Kenapa kamu membenci kami?" Mereka tidak pernah sekalipun mengakui bahwa merekalah alasanku menjaga jarak. Ketika aku mencoba menjelaskan pandanganku, aku malah dituduh mencari alasan. Hari Raya itu terutama sulit - semua orang mengharapkan aku pulang. (Sebenarnya kami tidak merayakan Natal, tapi itu hari libur umum jadi mereka mengira aku punya waktu dan harus ada di sana.) Aku biasa pergi setiap tahun, tapi kali ini aku menolak. Aku bilang aku hanya akan berkunjung sehari, tidak menginap. Mengirim pesan itu bikin aku merasa mual dan takut karena aku tahu momen penyesalan yang akan datang. Ayahku bilang oke, kakakku membalas "lakukan apa yang kau mau" (jelas marah), dan aku tahu ibuku akan membuat keributan saat aku datang. Bagaimana cara menghentikan perasaan bersalah ini? Di komunitas keagamaan kami, kami selalu diajarkan hak-hak orang tua, dan tidak ada yang berbicara tentang orang tua yang abusif, hak-hak anak, atau bahwa kekerasan itu bentuk zulm (penindasan). Nasihat biasa adalah "punya sabar, mereka orang tuamu," jadi kalau itu satu-satunya responmu, tolong jangan repot-repot. Aku tidak ingin hidupku penuh kecemasan dan rasa bersalah untuk lingkungan yang MEREKA ciptakan dan menolak untuk akui. Rasa bersalah religius membuatku merasa seperti Muslim yang buruk, walaupun aku masih berkomunikasi lewat pesan dan kadang menelepon. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak mau sering-sering berkunjung secara langsung, dan aku merasa sangat terisolasi saat orang lain berbicara tentang keluarga mereka karena aku tidak bisa relate. Ada saran praktis dari saudara-saudari yang bisa menyeimbangkan iman dengan melindungi diri dari anggota keluarga yang berbahaya? Bagaimana kamu menyeimbangkan kewajiban untuk berbakti dengan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental dan keselamatanmu?

+330

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Pendek aja: kamu berhak melindungi ketenanganmu. Bilang 'aku mencintaimu tapi aku nggak bisa berada di situasi beracun' dan ulangi itu. Nggak usah terlalu menjelaskan. Kamu bakal merasa kurang bersalah setiap kali kamu tegaskan.

+17
Diterjemahkan otomatis

Saudari, perasaanmu itu valid. Aku bikin aturan: nggak ada obrolan tentang sengketa keluarga saat aku berkunjung. Kalau udah mulai, aku ganti topik atau pergi saja. Ini membantuku tetap berhubungan tanpa terjebak dalam siklus yang sama.

+12
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum, sis. Saya udah ngalamin itu. Ngerapin batasan bener-bener nyelamatin kesehatan mental saya - kunjungan singkat, nggak ada nginep semalam, dan topik-topik yang jelas saya nggak mau terlibat. Ingat ya: melindungi kesehatan mental itu bukan kufr. Terus aja telpon dan kirim pesan kayak biasa. Kamu udah cukup, jujur.

+12
Diterjemahkan otomatis

Kamu bukan Muslim yang buruk karena memilih perdamaian. Aku pakai doa dan menetapkan batasan kunjungan - dan bikin daftar merah pribadi. Kalau mereka melewati batas itu, aku pergi. Ini membantu untuk memberi tahu teman terpercaya atau imam tentang rencanamu supaya ada yang tahu kamu nggak mengisolasi diri.

+9
Diterjemahkan otomatis

Jujur, aku pernah bohong tentang kesibukan beberapa kali cuma untuk menghindari drama dan rasanya aneh tapi bikin lega. Jaga supaya panggilannya teratur biar mereka nggak merasa ditinggalkan. Batasan bisa lembut dan tegas sekaligus.

+5
Diterjemahkan otomatis

Saya juga dulunya dibebani rasa bersalah. Terapi membantu saya memandang ajaran agama dengan cara yang berbeda - berbuat baik kepada orang tua nggak berarti harus mentolerir kekerasan. Mulailah dengan langkah kecil: kunjungan yang lebih singkat, rencana keluar yang aman, dan ingatkan diri sendiri bahwa batasan itu adalah mercy, bukan kekejaman.

+13
Diterjemahkan otomatis

Aku merasakannya banget. Mamaku juga begitu dan Idul Fitri itu lebih parah. Aku mulai bilang 'aku bisa setelah jam 3' atau 'aku akan mampir selama 2 jam' dan itu bikin rasa tekanannya berkurang. Latih skrip singkat supaya kamu nggak kehilangan fokus pas lagi berdebat.

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar