Menghadapi ketiadaan sosok penjaga laki-laki dalam hidup saya - mencari kenyamanan dan bimbingan
As-salamu alaykum. Aku pengen berbagi sesuatu yang pribadi dan minta saran. Aku rasa sebagian besar kekosongan yang aku rasakan bakal terisi pas aku menikah, inshaAllah, tapi sampai saat itu, aku nggak tahu sih harus ngadepin ini gimana. Sejak kecil banget, aku udah pengen banget punya sosok ayah. Waktu mama nanya aku mau apa buat ulang tahun, aku biasa bercanda bilang pengen mama pergi ke “toko ayah” dan beli satu, sampai aku sadar hidup itu nggak kayak gitu. Aku ingat banget merasa sedih lihat ayah-ayah sama putri mereka waktu aku di kelas penerimaan. Bahkan aku suka habis waktu bareng suami-suami temen mama karena mereka bikin aku ngerasa nyaman dengan kehadiran maskulin mereka. Aku masih gampang terikat secara emosional sama pria yang bikin aku merasa aman dan diperhatikan - pria yang terkesan melindungi atau maskulin, kayak om teman eksku atau laki-laki yang bantu aku waktu aku merasa takut kemarin. Ini bukan ketertarikan romantis; aku belum pernah ngerasa tertarik sama pria yang nggak di usia 30-an. Ini lebih ke kerinduan sama sosok ayah. Dari sekitar umur 11 tahun, aku mulai mencari sosok ayah, dan tahun-tahun tersulit adalah sekitar umur 13-14 (15 juga sulit sih). Alhamdulillah, sekarang aku lebih dewasa dan hidupku lebih baik. Aku udah belajar dengan cara yang sulit bahwa mencari panutan bisa bikin kita rentan; aku pernah disakiti dan dimanfaatkan. Meski begitu, aku punya kecenderungan buat percaya sama orang dan menganggap niat baik, kecuali kalau aku lihat alasan untuk tidak. Aku percaya sih, punya hati yang lembut dan penuh percaya itu hal yang indah, tapi kalau nggak diawasi, bisa bikin kita terbuka untuk bahaya. Aku bahkan pernah aktif banget nyari wali, yang ternyata lebih sulit dari yang aku kira. Aku sempat berhenti sejenak, tapi sekarang aku nyoba lagi karena aku nggak mau disakiti lagi - aku hanya pengen merasa dilindungi dan dirawat. Aku mau nanya: bagaimana sih saudari-saudari yang lain mengatasi kesedihan karena tidak punya wali pria atau sosok ayah yang hadir? Langkah praktis apa yang kalian ambil sampai menikah atau sampai wali yang cocok muncul? Apakah ada cara untuk menemukan dukungan, mentorship, atau kehadiran pelindung yang sehat dalam batasan Islam? Jika ada doa, perubahan pola pikir, atau sumber daya komunitas yang membantu kalian, aku akan sangat menghargainya. JazakAllahu khairan buat yang udah baca dan untuk segala saran. Semoga Allah memberkati dan melindungi kalian semua. ☺️🙏🏼