Memilih Damai daripada Uang - Salam dan Saran Diterima
Assalamu alaikum - Aku umur 22 tahun dan udah kerja di pekerjaan yang sangat menuntut, di mana aku bertugas lebih dari 50 jam seminggu ditambah shift panggilan. Beberapa hari aku bisa di kantor dari sekitar jam 8:30 pagi sampai jam 10 malam, terus dipanggil lagi jam 2 pagi selama beberapa jam, dan kembali lagi jam 8:30 pagi buat mulai lagi. Aku on call setiap hari yang lain dan setiap akhir pekan yang lain. Aku peduli sama pekerjaan ini dan awalnya gak masalah dengan jam kerja, tapi setelah setahun di pekerjaan ini dan dua tahun di lapangan, aku bener-bener merasa kelelahan. Ini jadi lebih sulit sejak aku kehilangan salah satu orangtua di bulan September, dan seringkali aku di sekitar kasus di kerja yang berhubungan dengan kehilangan itu. Aku gak bisa terus kayak gini demi kesehatan mentalku. Aku pikir aku bisa menghadapinya, tapi aku gak bisa. Sekarang aku dapat sekitar $1200–$1700 setiap dua minggu. Aku udah ditawarin pekerjaan lain yang gajinya sekitar $800–$1200 setiap dua minggu tergantung jadwal. Aku merasa lega dan excited dengan peran baru ini, tapi juga khawatir soal penurunan pendapatan. Masih bisa kok untuk bayar tagihan kalau aku buat beberapa pengorbanan - aku bakal kehilangan sedikit dari “uang senang” yang udah aku biasa. Aku udah tunangan dan tunanganku dapat gaji yang lumayan. Dia terus bilang kita itu tim dan dia dukung aku keluar dari pekerjaan ini; dia udah nawarin bantu jika perlu dan bilang kita bakal sama-sama menyelesaikannya. Aku menghargai itu, tapi aku gak mau bergantung sama dia - aku suka bayar tagihanku sendiri dan merasa mandiri serta bertanggung jawab. Saat ini, aku cenderung mau ambil pekerjaan yang gajinya lebih rendah karena waktu, kedamaian pikiran, dan kemampuanku untuk berduka itu lebih penting daripada uang ekstra. Posisi baru ini masih memungkinkan aku untuk melayani orang lain, yang penting buatku, tapi dengan jam kerja yang lebih sehat. Aku udah mikirin buat keluar selama berbulan-bulan, jadi ini bukan reaksi impulsif terhadap duka; kehilangan orangtuaku adalah titik terakhir. Tolong jujur sama aku: apakah aku membuat pilihan yang bodoh, atau mengutamakan kesejahteraan diriku itu wajar di sini? Aku merasa tersesat dan gak lagi excited soal pekerjaan baru karena khawatir uang, tapi juga lega memikirkan kurangnya stres. JazakAllahu khairan untuk pemikiran atau saran praktis apapun.