Bisakah seseorang memberi saya nasihat dari perspektif Islam? Saya merasa sangat bingung.
Assalamu alaikum. Semoga kalian semua baik-baik saja. Aku nggak yakin gimana harus mulai. Aku udah punya terapis, tapi kadang-kadang dia tampaknya bingung harus merespons apa pas aku bicara tentang apa yang aku lalui. Mungkin situasiku terlalu berat buat dia. Dulu aku minum antidepresan tapi aku udah berhenti. Hari ini aku bahkan nggak bisa menyelesaikan shalatku karena aku cuma mau nangis. Aku kewalahan sama kenangan dari masa lalu. Rasanya sakit banget karena nggak ada yang kelihatan berjuang buat aku tetap ada dalam hidup mereka, sementara aku yang berjuang buat orang-orang yang hilang. Aku selalu pengen ada seseorang yang bener-bener takut kehilangan aku. Gimana bisa seseorang takut kehilangan aku padahal aku selalu yang stay, nggak peduli gimana mereka perlakukan aku? Aku kangen sama orang-orang di masa lalu dan aku bahkan nggak ngerti kenapa. Iya, aku punya masalah kecemasan dan keterikatan, dan itu nggak bikin segalanya lebih mudah. Aku terus mikirin orang-orang yang pergi walaupun aku nggak melakukan kesalahan. Aku baik. Aku nggak pantas dapat itu. Kenapa aku harus bawa begitu banyak dalam diri? Kenapa aku takut sama masa depan? Kenapa aku nggak punya orang-orang dekat di sekitarku? Pas aku sama teman-teman, aku merasa bahagia. Sekarang, kenangannya cuma bikin aku sedih. Dan aku terus nanya pada diri sendiri: kenapa semua yang aku cintai pergi? Apa aku nggak pantas bahagia? Aku denger “segala sesuatu terjadi dengan ketentuan Allah,” tapi apa sih hikmahnya dari semua ini? Aku udah banyak nangis-apa pelajaran yang harus aku ambil? Aku 22. Seharusnya aku menikmati hidup, tapi aku terlalu menekan diriku sendiri. Aku khawatir aku nggak bakal nemuin orang-orang yang lebih baik, bahwa merekalah yang terbaik yang bisa aku punya. Sekarang, aku cuma di sini, merasa hilang. Saran dari perspektif Muslim bakal sangat berarti - doa, pengingat, atau langkah-langkah praktis buat bantu aku sembuh dan percaya dengan rencana Allah. JazākAllāhu khayran.