Bisakah Uang Membeli Ingatan Sejarah?
Indonesia merevisi istilah dalam buku pelajaran sejarah nasional, mengubah penyebutan kekuasaan Jepang pada Perang Dunia II dari "pendudukan militer" menjadi "penjajahan". Perubahan ini memicu perdebatan dan dinilai sebagai upaya meninjau kembali citra Jepang yang selama ini dibangun melalui hubungan ekonomi dan diplomatik, termasuk bantuan pembangunan resmi (ODA) dalam jumlah besar.
Di tengah perdebatan, Menteri Pertahanan Jepang menghadiahkan miniatur kapal perang Mikasa kepada Presiden Prabowo. Simbol militer Kekaisaran Jepang itu menuai kritik warganet yang mempertanyakan sensitivitas sejarah. Sejarawan menilai narasi rekonsiliasi sejarah Jepang di Asia tidak terlepas dari diplomasi dan bantuan pembangunan.
Generasi tua Indonesia masih mengingat masa pendudukan Jepang, termasuk praktik romusha atau kerja paksa yang menelan banyak korban, serta kelaparan besar akibat kebijakan mobilisasi pangan dan kondisi perang. Penderitaan itu menjadi ingatan keluarga yang diwariskan lintas generasi dan tidak dapat dihapus oleh investasi atau pembangunan infrastruktur puluhan tahun kemudian.
Revisi istilah ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan melawan ketidakadilan sejarah. Kerja sama ekonomi dengan Jepang tetap penting, namun menerima investasi tidak berarti menyerahkan ingatan sejarah. Ada bagian dari sejarah yang harus tetap diingat oleh generasi penerus.
https://www.gelora.co/2026/09/