Diterjemahkan otomatis

Menyeimbangkan keluarga, iman, dan hari pernikahan saya

Assalamu alaikum. Ini sedikit curhat. Aku tumbuh dengan seorang kakak yang autis, dan selama ini kebutuhan emosionalku sering diabaikan karena dia butuh banyak perhatian. Aku 4 tahun lebih muda darinya dan bahkan pernah secara fisik terluka olehnya ketika kecil, jadi ada banyak sejarah rumit di antara kami. Cepatlah waktu - sekarang aku di usia 20-an dan mau menikah. Kakakku sekarang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang wanita. Aku inginkan nikah Islam di mana aku bisa punya ruangan khusus wanita untuk dandan dan merias diri tanpa harus pakai hijab di waktu itu. Aku peduli sama kakakku dan mencintainya meskipun ada trauma di masa lalu, dan aku nggak mau menyakiti atau membuatnya kecewa. Tapi aku juga pengen saudari hijabiku dan tamu perempuan merasa nyaman dan bisa bersantai tanpa harus pakai hijab di ruang privat itu. Aku bingung: apakah aku harus melindungi kenyamanan saudari-saudariku dan berisiko menyakiti perasaan kakakku, atau menggelar pertemuan campur dan tetap pakai hijab sepanjang waktu (yang sebenarnya aku nggak mau), atau mencari solusi lain? Orang tuaku mostly mengabaikan apa yang aku lalui, dan ibuku bahkan bilang dia akan sedih kalau aku nggak membawa anakku ke dekatnya di masa depan. Aku merasa sudah mengorbankan banyak untuk merawat saudara yang difabel, dan ini seharusnya hariku, jadi rasa bersalah itu berat. Aku sedang mempertimbangkan untuk mengadakan pernikahan di Saudi di mana keluargaku suami berada, jadi beberapa anggota keluargaku mungkin nggak hadir dan mungkin menghindari konflik, tapi aku tetap ingin orang tuaku ada dan aku nggak yakin apa itu sepadan dengan stres. Aku seorang mualaf dan keluargaku kebanyakan ateis, jadi dukungan terbatas. Aku sangat menghargai saran dari saudari-saudari tentang bagaimana menyeimbangkan melindungi privasi dan perasaan wanita sambil tetap baik dan adil terhadap saudaraku. JazakAllah khair.

+173

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Saya akan sarankan naskah yang lembut yang bisa kamu gunakan: jelaskan bahwa ini adalah waktu persiapan hanya untuk wanita demi kenyamanan, bukan rasa eksklusi. Mungkin tunjukkan bibi yang kamu percayai untuk menemani saudaramu selama satu jam itu supaya mereka merasa diperhatikan. Batasan bukan berarti kamu tidak baik.

+4
Diterjemahkan otomatis

Jujur, jadi seorang mualaf dengan sedikit dukungan keluarga membuat ini lebih sulit. Apakah keluarga suamimu bisa bantu mengelola situasi ini supaya orang tuamu nggak menimbulkan drama? Juga, pertimbangkan untuk memberi tahu saudaramu sebelumnya supaya itu bukan kejutan. Rasa kasih plus batasan yang jelas biasanya paling efektif.

+4
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, itu sulit. Bisa nggak kamu punya dua ruang-satu yang privat untuk riasan/rambut dan area terpisah di mana saudaramu bisa menghabiskan waktu bersama keluarga? Dengan begitu, kamu bisa punya privasi dan mereka nggak merasa terasing. Batasan itu oke, apalagi di hari istimewa kamu.

+4
Diterjemahkan otomatis

Singkat dan nyata: kamu boleh kok ingin momen tanpa hijab di tempat privat. Kalau itu bikin saudaramu kesal, itu masalah situasinya, bukan kamu. Tawarkan inklusi di waktu lain dalam sehari. Jangan biarkan rasa bersalah mencuri kebahagiaanmu. Aku mendoakan agar kamu mendapatkan kejelasan.

+5
Diterjemahkan otomatis

Saya akan pilih kedamaianmu untuk hari ini. Mungkin jelasin dengan lembut ke kakakmu bahwa ruangan khusus wanita itu sementara dan bukan penolakan. Jika orang tuamu tidak mendukungmu, tetapkan batasan dengan baik tapi tegas-hari ini adalah milikmu. Pelukan besar dan doa untuk kemudahan.

+7
Diterjemahkan otomatis

Assalamu'alaikum saudariku, aku benar-benar minta maaf kamu harus menanggung ini. Aku mau coba kasih saran kecil: ruang persiapan khusus untuk wanita, tapi ajak saudaramu dengan pendamping perempuan yang terpercaya untuk sebagian hari jadi mereka masih merasa dilibatkan. Kamu berhak mendapatkan momen tenang untuk bernafas di hari pernikahanmu. Kirim doa.

+4

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar