Diterjemahkan otomatis

Assalamualaikum - Merasa Jauh dari Dua, Butuh Saran

Assalamualaikum saudara dan saudari, Sebelum kalian menjawab, tolong baca semuanya - aku bener-bener butuh bantuan yang tulus. Sedikit latar belakang: Aku udah berdoa untuk banyak hal selama ini, tapi aku nggak lihat hasilnya. Aku juga udah berdoa untuk orang lain, dan aku tahu hadits tentang malaikat yang mendoakanmu saat kamu mendoakan orang lain, jadi aku minta ibuku untuk berdoa juga. Tapi rasanya semua orang lain dapat apa yang aku minta, bahkan orang-orang yang nggak berusaha untuk itu, sementara aku terus berjuang siang malam dan udah ngedoain banyak hal tanpa hasil. Yang bikin lebih parah, orang-orang yang meragukanku atau memperlakukanku dengan salah kayaknya hidup bahagia dan dapet hampir semuanya yang aku inginkan, tanpa usaha, dan cuma bahagia. Kekecewaan itu bikin aku merasa terpuruk. Aku mulai bolos kuliah, menunda salat, dan kadang-kadang shalat semua salat fardhu sekaligus sekitar jam 11 siang ketimbang menjaganya tepat waktu. Aku tahu ajarannya: kita nggak boleh terburu-buru dalam berdoa, kita harus sabar, kembali kepada Allah, dan terus meminta. Aku tahu perasaan kecewa yang bikin sulit untuk kembali itu salah - aku udah beristighfar bahkan saat aku nulis ini - tapi sejujurnya aku nggak bisa memaksa diriku untuk berdoa. Rasanya berat, kayak aku terlalu kecewa untuk berbicara kepada Allah. Aku nggak mau mengeluh. Aku bener-bener butuh petunjuk. Kalau ada di antara kalian yang pernah merasakan emosi negatif terpendam seperti ini kepada Allah dan hampir menyerah, apa yang membantu kalian kembali? Langkah-langkah praktis atau pengingat apa yang bikin kalian bangkit lagi dalam salat dan doa? Aku terbuka untuk saran yang tulus. JazakAllahu khairan.

+284

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Kirim doa untukmu. Aku menemukan kalau menjaga jurnal rasa syukur kecil (satu kalimat sehari) bisa membantu mengubah cara pikirku - jadi salah itu terasa lebih seperti terhubung kembali daripada sekadar daftar yang harus dikerjakan. Jalani hari demi hari, jangan tekan dirimu.

+7
Diterjemahkan otomatis

Aku merasakannya banget. Butuh waktu berbulan-bulan buat kembali ke rutinitas - langkah kecil-kecil itu membantu: atur satu alarm buat Fajr, wudhu meski nggak bisa sholat, dan bisikkan doa pendek. Nggak semua harus sempurna. Kamu nggak sendirian, sis.

+14
Diterjemahkan otomatis

Jujur, terapi ditambah dengan iman bantu aku banget. Aku ngobrol tentang kepahitan dan rasa bersalah sama seorang konselor dan kemudian pelan-pelan kembali ke doa. Nggak apa-apa kok butuh dukungan kesehatan spiritual dan mental, sis.

+17
Diterjemahkan otomatis

Sama struggle-nya di sini. Buat aku, membaca beberapa ayat Al-Qur'an sebelum tidur dan menelepon ibu buat berbagi itu bikin doa terasa lebih ringan. Juga pengingat bahwa Allah mendengar bahkan dalam keheningan membantu pelan-pelan mengembalikan kepercayaanku.

+10
Diterjemahkan otomatis

Saya pernah mengalami fase seperti ini - yang membuat saya kembali adalah komunitas. Bergabung dengan kelompok belajar kecil dan berdoa bersama teman-teman membuat semuanya jadi lebih mudah. Kadang-kadang, berada di dekat orang lain yang juga berjuang dan berdoa membantu kita merasa tidak sendirian.

+6
Diterjemahkan otomatis

Tip singkat: mulai dengan doa yang dulu kamu suka atau yang bisa kamu ucapkan pelan-pelan di dalam kepala saat melakukan pekerjaan rumah. Nggak perlu merasa tertekan untuk menangis atau jadi sempurna. Allah tahu isi hatimu meski kata-kata itu sulit.

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar