Diterjemahkan otomatis

Assalamu Alaikum - rencana pernikahan yang bikin pusing, butuh saran.

Assalamu Alaikum - Tunanganku dan aku berasal dari gaya keluarga yang sangat berbeda. Keluargaku besar, sangat terlibat, dan emosional saat merayakan momen penting. Keluarganya kebalikannya: private, low-key, dan bukan tipe yang suka acara besar. Keluargaku juga agak publik dan kami sudah menghadiri banyak pernikahan, plus kami punya banyak teman keluarga. Keluarganya lebih memilih untuk menjaga jarak dan nggak punya jaringan yang sama. Keluargaku menawarkan untuk menanggung sebagian besar biaya dan mengatur segala sesuatunya untuk pengantin di berbagai acara, sementara keluarganya memutuskan untuk melewatkan beberapa perayaan (nggak ada walima, nggak ada mehndi). Kami sering berdebat karena dia ingin semuanya jadi lebih kecil. Orang tuaku juga memimpin dalam merencanakan dan mengorganisir. Untuk menghormati keinginan keluarganya, kami menghilangkan banyak tradisi, mengurangi daftar tamu, mengubah tempat, dan menyederhanakan hampir semuanya. Kami bahkan mengambil sekitar 95% dari apa yang biasanya ditanggung pihak pengantin pria agar mereka merasa nyaman. Dia masih menyebutnya “pernikahan besar” karena kami menggunakan aula perjamuan. Dia menyebutkan bahwa Nabi (semoga damai menyertai-Nya) nggak akan mengedepankan status dan bahwa yang salah tetap salah. Ayahku sudah berbicara dengan dia beberapa kali untuk menjelaskan bahwa kami berusaha sebaik mungkin untuk menjaga semuanya tetap sederhana, tapi sebagai keluarga publik, kami memang mengenal banyak orang. Apa yang benar-benar menyakitkan bagiku adalah ketika dia bilang kalau kakak tertuanya, yang sangat dekat dengannya dan tinggal di luar negeri dengan istrinya, memilih untuk tidak hadir karena dia percaya bahwa pernikahan besar itu tidak Islami dan tidak setuju dengan itu. Aku nggak marah, tapi aku sangat sedih. Ini momen yang sangat penting dalam hidupku, dan tahu bahwa seseorang yang begitu dekat dengan calon suamiku tidak akan hadir membuatku merasa terluka. Karena dia keluarga, aku tidak ingin berkata kasar, tapi aku juga nggak bisa mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan tunanganku seharian ini karena betapa kecewanya aku. Ada yang punya saran tentang bagaimana menangani ini dengan lembut, menghormati pandangan kakaknya, dan membagikan perasaanku tanpa menyebabkan ketegangan lebih lanjut? JazakAllah khair.

+231

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini sangat bisa dimengerti. Bisa minta tunanganmu untuk menyampaikan undangan tulus darimu kepada saudaranya - tanpa tekanan, cuma mengundangnya untuk jadi bagian dari harimu secara emosional walaupun dia nggak bisa hadir? Kadang-kadang itu bisa membuka peluang.

+4
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan cinta. Jika berbicara langsung terasa sulit, tulislah catatan pendek untuk tunanganmu yang menjelaskan kesedihanmu dan apa yang kamu inginkan darinya (dukungan, pengakuan). Ini kurang emosional dibandingkan percakapan yang tegang dan memberinya waktu untuk berpikir sebelum menjawab.

+4
Diterjemahkan otomatis

Girl, jaga dirimu dulu ya. Nangis aja sama teman dekat, terus ngobrol deh pas kamu sudah tenang. Gunakan pernyataan “saya” supaya nggak terkesan menyerang saudaranya atau dia. Mungkin dia nggak sadar seberapa dalam ini menghantam.

+3
Diterjemahkan otomatis

Jujur, sepertinya kamu udah banyak mengalah. Bilang sama dia kalo kamu menghormati keyakinan, tapi butuh empati. Mungkin bisa saranin buat adain pertemuan santai yang terpisah (makan malam/duas) dengan keluarganya yang dekat untuk menghormati nilai-nilai mereka tapi tetap melibatkan mereka.

+3
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, itu pasti sangat menyakitkan. Aku bilang, bilang deh dia dengan lembut betapa kerasnya sakitnya karena saudaranya nggak mau datang - fokus aja sama perasaanmu, jangan menyalahkan. Mungkin bisa saranin ketemu pribadi dengan saudaranya nanti biar kalian bisa nyambung. Pelukan besar, kamu udah berusaha sebaik mungkin.

+3
Diterjemahkan otomatis

Salaam, saya ngerti. Batasan tapi kejujuran - bilang ke tunanganmu kalau kamu menghargai pendapat keluarganya tapi yang ini terasa menyakitkan. Minta untuk ngobrol dengan tenang di mana kamu bisa jelasin kenapa kehadiran itu penting secara emosional buatmu. Jangan biarin ini mengendap. Mengirim doa.

+4
Diterjemahkan otomatis

Saya akan tetap lembut: “Saya tahu kalian punya alasan, tapi saya merasa sangat sedih hari ini saat mendengar.” Biarkan dia merespons dan jangan menyela. Mungkin bisa rencanakan acara teh kecil hanya untuk keluarga setelah pernikahan bagi mereka yang tidak bisa hadir?

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar