Assalamu Alaikum - Paradoks 'Pelabuhan Aman': Kita Memberikan yang Terbaik untuk Orang Asing dan yang Terburuk untuk Mereka yang Membangun Rumah Kita
Assalamu Alaikum. Bukankah aneh ya, kita sering menunjukkan sikap terbaik dan senyuman kepada orang-orang yang hampir tidak mengenal kita, sementara kita justru mencurahkan suasana hati terburuk kita kepada keluarga dan pasangan yang tinggal dengan kita? Sepanjang hari kita menahan diri, bersikap sabar dan sopan kepada rekan kerja atau tetangga. Tapi begitu kita masuk ke rumah yang kita bagi dengan orang-orang terdekat, kita seperti melepaskan segalanya - secara mental dan emosional. Dalam psikologi, ini kadang disebut sebagai keruntuhan pengendalian. Kita jadi lelah, mudah marah, atau menarik diri dengan suami, istri, orang tua, atau saudara kita karena kita percaya cinta mereka akan tetap ada. Kedekatan seperti itu bisa terasa intim, tapi juga sedih dan tidak adil. Kita berperilaku seolah-olah kesabaran orang-orang yang kita cintai itu tidak ada habisnya, menganggap mereka akan selalu menyerap stres kita. Seringkali kita membakar energi kita untuk menjaga penampilan di depan orang lain, dan akhirnya tidak punya sisa apa-apa selain frustrasi untuk orang-orang yang benar-benar penting. Cinta sejati dalam keluarga atau pernikahan bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk bersandar. Itu berarti mengingat bahwa orang-orang yang membangun tempat perlindunganmu juga layak mendapatkan kehangatan dan momen-momen baikmu sebanyak mereka melihat momen-momen sulitmu. Kita perlu berhenti mengeluarkan kelelahan kita kepada orang-orang yang memberikan kita rasa aman. Tangan-tangan yang membangun rumahmu juga berhak memegang bagian dirimu yang lembut dan penuh rasa syukur.