Assalamu Alaikum - Ayahku menganggapku sebagai investasi dan itu menyakitkan.
Assalamu Alaikum, saya sebenarnya nggak tahu apa yang saya harapkan dengan nge-post ini, mungkin cuma biar merasa nggak sendirian. Saya [perempuan, awal 20-an]. Saya lagi berusaha menghadapi kesehatan mental saya dan sekarang di rumah (sebenarnya lagi nyari kerja - saya sempat dapat kerjaan tapi ayah saya nggak setuju jadi dia tolak untuk saya) setelah lulus pendidikan sarjana dan mempersiapkan sekolah pascasarjana. Hari ini saya menemukan pesan antara orang tua saya. Ayah saya nulis begini tentang saya untuk mama. Latar belakangnya adalah saya lagi depresi dan nggak bisa "produktif" kayak yang mereka harapkan. Pesan Ayah: Saya setuju, saya nggak sabar dan juga saya nggak tahu dia lagi ngapain. Kalian semua merayakan dia berangkat ke AS untuk belajar lebih tinggi dan sekarang dia hanya menghabiskan waktu tidur. Kamu mungkin bisa menerima perilakunya yang malas, kamu mungkin bisa ngajarin saya tentang semuanya, pertama ajari dulu anakmu untuk memanfaatkan waktunya yang berharga. Orang-orang tanya saya dia lagi ngapain. Saya punya hak untuk bertanya, saya menghabiskan uang yang saya dapat dengan susah payah untuk pendidikannya, sekarang kamu bilang saya nggak boleh tantang dia tentang perilakunya. Apa yang dia lakukan dalam 6 bulan terakhir yang bisa diapresiasi? Jadi anak sulung di keluarga, apakah dia udah ambil tanggung jawab apa pun sejauh ini? Apa yang kamu ajarkan kepada saya? Balasan Mama: Saya hanya ingin mendukung anak saya di saat-saat sulitnya. Anak itu bukan barang untuk ditantang. Saya cuma... hancur. Melihat ayah saya memperlakukan saya seperti investasi finansial dan sumber rasa malu sosial. Kalimat tentang "apa yang sudah dia lakukan untuk diapresiasi?" itu paling menyakitkan. Seolah-olah nilai saya sebagai orang itu kayak laporan kemajuan. Bagian terburuk adalah ada bagian dari diri saya yang mempercayainya. Saya merasa sangat tidak berharga. Balasan mama sedikit memberi kenyamanan, tapi itu nggak mengurangi betapa beratnya kata-kata ayah. Apakah ada orang lain yang orang tuanya juga bikin mereka merasa seperti investasi yang gagal? Gimana cara kalian menghadapi perasaan kalau nilai diri kalian itu cuma seberapa banyak yang kalian hasilkan? JazakAllah khair untuk saran atau doa-doanya.