Assalamu alaikum - Saya memutuskan hubungan dengan keluarga saya, kehilangan calon suami dan teman-teman, dan sekarang saya merasa kosong. Tolong beri saya saran.
Assalamu alaikum. Aku nulis karena aku merasa kayak udah di titik terendah secara emosional dan gak tahu gimana cara bawa ini sendirian. Beberapa tahun terakhir, aku udah kehilangan hampir semuanya yang bikin hidupku terasa stabil. Aku memutuskan hubungan dengan keluarga dekat. Aku kehilangan teman-teman yang dulunya berarti banget buatku. Dan aku kehilangan tunanganku - orang yang aku kira bakal aku bangun masa depan bersamanya. Sekarang ada kekosongan yang bikin aku takut. Gak ada yang bisa menyenangkan hati. Meninggalkan keluargaku bukan pilihan yang mudah. Mereka adalah orang-orang yang aku tumbuh bersamanya - saudara, sepupu - aku selalu ada buat mereka dan mencintai mereka. Tapi hubungan itu jadi merusak emosional. Saat aku rentan, aku dihina. Saat aku mencoba menetapkan batas, mereka semakin menekan. Ada provokasi terus-menerus dan kemudian penyangkalan. Gak ada tanggung jawab, gak ada penyesalan. Yang bikin ini tak tertahankan adalah kurangnya rasa hormat dan kasih sayang dasar. Aku diharapkan untuk mentolerir ketidakrespectan hanya karena kita terikat darah. Saat aku akhirnya berhenti menerima itu, aku jadi masalah. Memutuskan mereka terasa seperti memotong anggota tubuhku sendiri, tapi bertahan malah menghancurkanku. Di saat yang sama, aku bertunangan dengan seseorang yang benar-benar baik. Dia baik, sabar, mendukung, tulus. Orangtuaku suka dia dan masih suka sampai sekarang. Mereka menghormatinya, terutama tahu dia adalah seorang mualaf yang datang ke Islam dengan tulus. Ketegangan gak datang dari mereka - tetapi dari saudaraku. Mereka kejar hubungan yang gagal berulang kali, dan saat aku menemukan seseorang yang baik, ada perubahan. Ada antagonisme terus-menerus, negativitas, dan kebencian terhadap hubunganku. Mereka bicara buruk tentang kami, mencoba melemahkan hubungan ini, dan bikin jelas kalau mereka pengen kami gagal. Mereka bahkan berdoa melawan kami secara terbuka. Satu saudariku khususnya menunjukkan rasa iri dan menargetkan apa pun yang baik dalam hidupku. Dikelilingi orang-orang yang dengan aktif ingin hubunganmu gagal itu berat banget, susah dijelaskan kecuali kamu pernah ngalamin. Tekanan gak pernah berhenti. Akhirnya tunanganku gak bisa tahan lagi dan pergi - bukan karena cinta sudah pergi, tapi karena lingkungan yang begitu bermusuhan dan tanpa henti. Setelah itu, semuanya runtuh. Aku kehilangan keluarga, aku kehilangan tunanganku, aku kehilangan teman. Dan aku merasa kayak udah kehilangan diriku sendiri. Aku sudah terapi lebih dari setahun. Aku pergi, aku refleksi, aku berduka, aku melakukan proses penyembuhan. Tapi tetap aja kesedihan itu belum hilang. Yang paling menakutkan adalah aku gak merasa banyak lagi. Ngobrol dengan teman gak membantu. Ngobrol dengan saudara juga gak membantu. Bahkan orang-orang yang dulu aku rindukan gak bisa memberi kenyamanan. Aku bangun dengan sedih dan tidur dengan sedih. Semuanya terasa hampa. Aku merasa mati rasa, kesepian, dan terputus dari hidup. Aku berduka untuk orang-orang yang masih hidup. Aku berduka untuk masa depan yang aku kira ada. Aku berduka untuk versi diriku yang merasa dicintai, penuh harapan, dan berakar. Orang-orang bilang aku harus move on, memaafkan, dan jadi kuat. Tapi gak ada yang bicara tentang betapa menghancurkannya kehilangan sistem dukunganmu sekaligus, betapa mengasingkannya memilih rasa hormat pada diri sendiri dan tetap berakhir sendirian, dan bagaimana depresi bisa datang meskipun kamu berusaha melakukan semuanya dengan benar. Aku bukan nulis untuk nyerang siapa pun atau minta validasi. Aku nulis karena aku merasa hancur dan lelah, dan aku perlu tahu kalau aku gak sendirian. Aku sudah coba sebaik mungkin secara Islam - shalat, tawakkal pada Allah, melakukan istikhara. Aku sangat berharap tunanganku balik. Dia mencintaiku dengan dalam tapi bilang situasi keluargaku bikin dia kewalahan dan dia belum merasa siap untuk mendukungku secara finansial. Kami berdua masih di sekolah dan di awal dua puluhan. Aku tahu dia mencintaiku dan masih berdoa untukku. Kami juga bekerja bersama jadi kami sering bertemu. Kalau kamu sudah memutuskan hubungan dengan keluarga dan masih berduka setelah terapi mulai, bagaimana kamu melewatinya? Kalau kamu kehilangan pasangan dan teman sekaligus, bagaimana kamu membangunnya kembali? Apakah rasa mati rasa itu pernah hilang, atau kamu cuma belajar untuk hidup dengannya? Jazakum Allahu khairan kalau kamu baca ini. Aku bener-bener perlu bilang ini di suatu tempat.