Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - Aku nggak bisa tidur karena kebiasaan orang tuaku.

Assalamu alaikum. Saya punya pekerjaan 9-5 (yang pertama kali) dan saya masih beradaptasi, apalagi karena perjalanan ke kantor memakan waktu lama. Saya biasanya sampai di rumah sekitar jam 7:30–8 malam dan butuh istirahat sebelum hari berikutnya. Masalahnya, orang tua saya, terutama ibu, nggak menghargai tidur saya. Ini udah jadi parah sampai kadang saya merasa putus asa. Sebagai konteks, saya punya kecemasan dan depresi yang sudah didiagnosis - saya pernah coba obat dan terapi sebelumnya, meskipun sekarang saya nggak minum obat. Saya berjuang untuk tetap baik-baik saja sambil mempertahankan pekerjaan ini. Ibu saya bangun untuk sholat di malam hari dan cenderung nyalain sebagian besar lampu di rumah. Lampu ruang tamu masuk ke kamar saya, dan saya butuh suasana dingin, gelap, dan tenang untuk tidur. Dia juga sering membuka pintu kamar saya tanpa alasan dan bikin saya terbangun; ketika saya minta dia untuk nggak melakukannya dan menjelaskan bahwa saya harus kerja pagi, dia menutup pintu tapi kemudian membukanya lagi. Mereka juga mematikan AC karena merasa perlu, yang bikin saya bangun dengan panas dan berkeringat. Sistem AC terhubung antara kamar saya dan kamar orang tua, jadi itu langsung memengaruhi saya. Saya udah tanya ke ibu berkali-kali kenapa dia melakukan ini karena bikin saya marah dan memperburuk kecemasan saya - setelah jam 3 pagi, saya sering kali nggak bisa tidur kembali setiap kali dia melakukan ini. Ibu saya hanya diam dan siklus itu berulang. Saya minta saran. Gimana cara saya mengkomunikasikan ini dengan cara yang menghormati ikatan keluarga dan norma-norma Islam, tapi juga melindungi kesehatan dan tidur saya? Saya sebenarnya cuma ingin bisa tidur seperti orang lain supaya bisa kerja dan mengelola kesehatan mental saya. JazakAllah khair untuk saran praktis apapun.

+286

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini sulit, saudariku. Aku sarankan doa singkat di pagi hari supaya sabar, terus solusi praktis: masker mata, penyumbat telinga, dan mungkin tanda penahan pintu yang bilang 'Tidur untuk kerja'. Kalau ngomong sudah gagal, libatkan anggota keluarga yang tenang. Utamakan kesehatanmu, itu bukan berarti tidak hormat.

+10
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum, saya pernah mengalami itu. Kamu bisa coba nulis catatan sederhana di pintu kamu dalam bahasa Arab/Inggris yang menjelaskan jam kerja kamu dan kebutuhan untuk gelap? Kadang-kadang, pengingat lembut yang terlihat lebih membantu daripada ngobrol jam 3 pagi. Juga, earplug dan masker tidur sangat membantu saya. Mengirim doa untuk kemudahan ❤️

+8
Diterjemahkan otomatis

Aku paham. Mesin suara putih + tirai blackout mengubah malam-malamku. Jika AC terhubung, coba pakai kipas di kamarmu dan seprai yang breathable supaya kamu nggak kebangun karena panas. Juga kasih tahu dia, ini bukan masalah pribadi, ini soal tidur dan kesehatan - ulangi dengan lembut sampai dia paham.

+7
Diterjemahkan otomatis

Salam sis, bisakah kamu minta seorang kerabat yang lebih tua dan terpercaya untuk membantu mediasi? Kadang-kadang orang tua mendengar hal yang berbeda ketika anggota keluarga lain menjelaskan. Dan mungkin tawarkan untuk membantu menyiapkan salat malam supaya dia nggak perlu nyalain lampu untuk kalian berdua.

+5
Diterjemahkan otomatis

Ugh, kurangnya rasa hormat itu banget bikin mental health jadi berat. Aku pernah ngirim pesan sopan jam 2 pagi (biar kelihatan) yang bilang "Tolong jangan buka pintu aku, aku ada kerjaan pagi." Aneh sih, tapi itu berhasil beberapa malam. Langkah kecil. Terus jaga tidurmu ya, kamu berhak kok.

+7
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, itu terdengar sangat melelahkan. Mungkin atur waktu yang tenang untuk berbicara setelah Maghrib ketika dia sudah rileks - bawa teh, ungkapkan kebutuhanmu dengan baik dan minta kompromi kecil seperti mematikan lampu ruang tamu sampai setelah jam 3 pagi. Sebutkan kesehatan dan pekerjaan - biasanya orang tua merespon itu.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar