Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - Merasa tertekan tentang hijab

Assalamu alaikum saudari, aku akan coba untuk singkat tapi tolong sabar ya 😞 Aku 19 tahun dan sekarang di tahun kedua kuliah. Ibuku selalu khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain dan tentang laki-laki yang melihatku "salah," jadi sejak aku sekitar 10 tahun dia memaksaku untuk pakai scarf di dadaku, dan di usia 12 tahun aku mulai pakai hijab. Aku masih muda dan takut, jadi aku menurut meskipun sebenarnya aku tidak terlalu suka. Seiring waktu, ini jadi kebiasaan - kadang aku merasa aneh tanpa itu. Saat aku mulai kuliah, aku perlahan mulai tidak suka memakainya karena sangat sedikit orang di sana yang pakai hijab. Aku khawatir jika aku memakainya, aku tidak akan bisa punya teman, jadi aku berhenti memakainya di kampus. Aku akan pakai sebelum keluar rumah atau menyimpannya di leherku, tapi baru-baru ini aku pergi keluar dengan teman-teman dan meninggalkannya sepenuhnya di dompetku. Ibuku melihat foto-foto itu dan bereaksi sangat keras. Dia bilang hal-hal seperti "Aku akan bakar semua hijabmu," "bagaimana aku bisa percaya padamu - kamu telanjang begitu keluar rumah," dan pernah mencoba menghentikanku di pintu dan mengambil hijabku. Kata-kata dan tindakan ibuku benar-benar membuatku sedih dan hampir menangis. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi kemarahannya dan tekanan ini - aku ingin menyeimbangkan imanku, kenyamananku, dan hubunganku dengan ibuku. Saran, doa, atau tips praktis tentang bagaimana bicara padanya dengan tenang, menetapkan batasan yang saling menghormati, atau perlahan membangun kembali kepercayaan akan sangat berarti. JazakAllahu khair.

+311

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini sakit banget buat dibaca. Dia takut buat kamu, tapi itu nggak bisa jadi alasan buat ancaman. Tetap buat satu batasan kecil: bilang aja kalau kamu bakal pakai itu di rumah kalau itu membantu, sambil kalian berdua ngobrol lebih pelan.

+14
Diterjemahkan otomatis

Perasaanmu itu sah. Jika dia ngamuk, mundur sejenak dan bernapas, lalu coba lagi nanti. Tindakan kecil penghormatan (bantu-bantu di rumah, berdoa bersama) bisa melembutkan kemarahan seiring waktu.

+7
Diterjemahkan otomatis

Doa istikhara dan minta kesabaran. Juga, anggap perubahan sebagai perjalanan, bukan pemberontakan. Beri dia waktu, jaga batas-batas dengan lembut tapi tegas. Kamu pantas mendapatkan kedamaian.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kamu butuh sekutu. Cari seseorang di keluargamu yang ngerti dan bisa menjelaskan sisi kamu dengan lembut. Juga, jaga foto-foto/privasimu untuk sekarang agar mereka nggak bisa menggunakannya melawanmu.

+6
Diterjemahkan otomatis

Aku juga ngalamin hal yang sama waktu di uni. Aku mulai dengan pakai scarf ringan di rumah dan perlahan-lahan milih pas di luar. Percakapan yang jujur dan sabar itu bantu banget. Dan terapi atau konseling di kampus bisa jadi sangat berarti.

+8
Diterjemahkan otomatis

Satu kalimat yang berhasil dengan mamaku: “Aku sedang belajar siapa diriku, tapi aku masih menghormati nilai-nilai kita.” Ulangi dengan tenang. Butuh waktu berbulan-bulan, tapi kepercayaan dibangun kembali perlahan.

+15
Diterjemahkan otomatis

Mashallah untuk kejujuranmu. Bisa minta bibi yang terpercaya atau teman keluarga untuk jadi jembatan? Kadang-kadang orang ketiga bikin ibu lebih mendengarkan tanpa jadi defensif.

+6
Diterjemahkan otomatis

Jangan biarkan dia membuatmu panik karena merasa malu. Tetap tenang, ulangi bahwa kamu mencintainya, dan katakan bahwa kamu sedang mencari tahu tentang imanmu, bukan menolak imannya. Itu bisa meredakan suasana. Doakan yang terbaik untukmu, beneran.

+5
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, aku udah ngalamin itu. Mulailah dengan obrolan yang tenang, mungkin sambil ngopi, dan jelasin perasaanmu daripada membela pilihanmu. Langkah kecil dan memberi keyakinan bisa membantu. Kirim doa ❤️

+17

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar