Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - Merasa Hilang dalam Iman

Assalamu alaikum. Aku posting ini karena butuh perspektif lain atau saran dari orang-orang. Aku masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang aku inginkan. Akhir-akhir ini aku sulit dengan agama, berusaha mencari jalan yang tepat untukku atau mungkin untuk mengonfirmasi di mana posisiku sekarang. Sedikit latar belakang: Aku lahir dalam keluarga dan komunitas Muslim. Aku nggak bisa dibilang sangat religius saat tumbuh dewasa, tapi aku percaya mengikuti apa yang ada di Al-Quran bisa menyelamatkanku dari Neraka. Jaman kecil aku melihat iman itu lebih sebagai imbalan/hukuman. Keyakinan kayak gitu nggak bertahan lama. Aku rasa aku nggak pernah benar-benar merasakan cinta yang dalam kepada Allah atau ingin menyembah dari hati yang paling dalam. Sering kali rasanya cuma sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan jujur kadang merasa merepotkan. Aku tahu dalam Islam sikap itu dianggap lemah dan bisa menyebabkan keraguan. Aku coba menenangkan keraguanku dengan mencari ilmu - membaca Al-Quran dan hadits, mendengarkan ceramah, mempelajari beberapa fiqh. Tapi bukannya bisa menjawab, itu justru membuat keraguan semakin parah. Aku jadi lebih bingung. Aku banyak berpikir dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan besar yang menghalangiku untuk sepenuhnya berserah: 1) Bagaimana bunuh diri cocok dengan ide bahwa Allah tidak membebani jiwa di luar kemampuannya? 2) Kenapa Allah sama sekali menguji manusia? 3) Agama lain (Hindu, Yahudi, Zoroastrianisme, dll.) lebih tua dalam beberapa kasus dan memiliki ajaran yang berbeda. Mereka nggak selalu mengklaim kebenaran eksklusif yang sama, jadi apa yang membuat Islam menjadi satu-satunya jalan yang benar? 4) Jika seseorang ditunjukkan pesan autentik dari Islam dan, dengan akalnya, menyimpulkan bahwa Islam mungkin bukan satu-satunya kebenaran, kenapa orang itu harus menghadapi hukuman abadi? 5) Jika Allah adalah penyebab utama segalanya dan tidak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya, kenapa usaha pribadi diperlukan? Bukankah kesuksesan dan kesulitan seharusnya sepenuhnya dikaitkan dengan Allah? 6) Jika Allah tidak butuh apa-apa dari kita, kenapa shalat dan ibadah lainnya wajib? Jika ibadah itu utamanya untuk manfaat kita sendiri, kenapa ada hukuman untuk yang mengabaikannya? 7) Bagaimana kita tahu interpretasi mana yang benar? Apakah seseorang akan dimintai pertanggungjawaban karena mengikuti interpretasi tulus yang berbeda dari teks yang sama? Ada pertanyaan lain, tapi itu yang utama yang bisa aku pikirkan sekarang. Saat ini aku merasa seperti teisme agnostik: Aku cenderung percaya pada sesuatu, tapi aku nggak bisa berkomitmen pada posisi religius tertentu ketika ada begitu banyak pandangan dan nggak ada cara objektif yang jelas untuk memahami Kebenaran. Aku sudah berjuang dengan ini selama beberapa tahun dan ini berdampak pada kesehatanku - aku kehilangan berat badan dan jadi sakit. Kadang aku berharap aku nggak pernah berpikir sedalam ini tentang agama supaya aku nggak perlu melalui semua ini. Kalau ada yang punya refleksi pribadi, perspektif Islam, scholar atau bacaan yang direkomendasikan, atau saran praktis untuk mengatasi sementara mencari kejelasan, aku sangat menghargainya. JazakAllahu khair.

+354

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Sangat berani untuk memposting ini. Bagi saya, menjelajahi agama-agama secara komparatif dengan tenang (bukan untuk menang) memperjelas apa yang saya rasakan. Gak apa-apa kalau ini butuh waktu, saudari.

+7
Diterjemahkan otomatis

Jujur, pertanyaanmu itu valid. Jangan malu sama diri sendiri karenanya. Mungkin coba deh cari tahu tentang para cendekiawan yang lebih menekankan pada kasih sayang dan konteks daripada ketaatan yang ketat pada teks.

+8
Diterjemahkan otomatis

Aku ada di tempatmu tahun lalu. Terapi + seorang mentor iman yang sabar banyak membantu. Juga, hati-hati sama orang-orang yang buru-buru mengembalikanmu ke kepastian - itu malah membuatku lebih buruk.

+9
Diterjemahkan otomatis

Saya sangat relate. Membaca membantu tapi juga bikin saya lebih bingung. Buat saya, mengambil istirahat dari belajar yang berat dan fokus pada tindakan kecil kebaikan bikin tekanan berkurang.

+12
Diterjemahkan otomatis

Kamu nggak sendirian. Bergantunglah pada teman dekat atau keluarga yang nggak bakal menilai, dan temui dokter tentang penurunan berat badan - tekanan mental itu nyata. Semoga kamu menemukan ketenangan.

+11
Diterjemahkan otomatis

Satu hal yang membantu: menuliskan doa dan perasaan tanpa berharap menemukan jawabannya. Kadang hati butuh ruang lebih dari sekadar bukti. Mengirim doa untuk mendapatkan kejelasan.

+7
Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum sister, aku juga merasakannya. Ambil langkah kecil - bicaralah dengan imam yang baik atau seorang terapis yang menghargai keraguan dalam beriman. Gak apa-apa untuk duduk dengan ketidakpastian sebentar tanpa memaksa mencari jawaban.

+11

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar