Assalamu alaikum - menghadapi kekerasan dalam rumah tangga di rumah
Assalamu alaikum. saya pakai akun sembarang Ayah saya mengharapkan istri seperti ibunya. Dia pulang sekitar jam 4, dan jika makan malam belum siap, piring tidak dicuci, atau rumah tidak bersih, semuanya jadi berantakan. Dia mulai teriak tentang perceraian dan bilang menikahi ibuku adalah kesalahan terbesarnya. Bukan hanya teriak - dia punya masalah kemarahan serius yang kadang jadi kasar, dan kita harus turun tangan. Hidup bersamanya terasa sesak. Aku denger terus menerus hinaan tentang betapa kita ceroboh atau malas hanya karena mungkin ada baju di tempat tidur atau satu ruangan gak sempurna. Dia berpikir dalam ekstrem: tidak ada ampun untuk kesalahan kecil. Jika ibuku sudah menyiapkan sebagian besar makan malam tapi ada beberapa hal yang kurang, tetap aja itu gak bisa diterima. Dia sering merendahkan ibuku sehingga sekarang ibuku melampiaskannya kepada kami dan sering mengkritik. Aku paham dia peduli soal kebersihan dan etika - kita kadang juga khilaf - tapi dia terlalu berlebihan. Dia bahkan menghina keluarga ibuku dan bicara jelek tentang kakek-nenek kami yang sudah meninggal dengan cara yang terasa jahat dan tidak perlu. Dia jadi lebih ketat seiring bertambahnya usia. Aku dan tiga kakakku yang lebih tua pakai hijab dan pakaian sopan, bahkan di depan kerabat (yang kadang gak selalu diharapin di sini). Kita gak bicara dengan pria non-mahram dan berusaha pergi ke masjid kapan kita bisa, tapi dia masih gak percaya sama kita. Dia membatasi tempat kita bisa pergi dan sering mengubah “jam malam” nya. Dia juga jarang shalat - mungkin seminggu sekali - dan ketika kita coba bicara tentang Islam dia jadi kesal. Dulu dia lebih taat sebelum menikah, bersedekah dan shalat, jadi aku penasaran ada yang berubah dan dia kesulitan untuk percaya pada rencana Allah dan fokus pada hal-hal negatif. Aku udah menerima bahwa mungkin aku gak bisa mengubah cara berpikir mereka, apalagi di usia mereka. Usahaku yang utama adalah menyelesaikan shalat fardh dan berusaha sebaik mungkin untuk menghormati, meskipun itu melelahkan. Secara emosional aku kehabisan tenaga. Di beberapa hari, aku benci pada ayahku; di hari yang lain aku inget dia adalah satu-satunya pencari nafkah dan memastikan kami makan dan punya pakaian yang baik. Meski begitu, aku rasa aku gak akan bisa lupa rasa sakit akibat cara dia memperlakukan ibuku dan pertikaian yang terus-menerus. Aku butuh saran tentang bagaimana menjaga kewarasanku dan mengatasi situasi rumah ini sambil tetap setia pada iman dan tanggung jawabku. Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi kesehatan mentalku, mendukung ibuku dan kakak-kakakku, serta menjaga iman tetap stabil?