Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - Lahir sebagai Muslim tapi udah agak jauh dari sholat.

Assalamu alaikum. Aku lahir dalam keluarga Muslim; kedua orang tuaku memeluk Islam setelah perang yang berlangsung sekitar empat tahun. Mereka saling menemui dan kemudian berpisah. Setelah perceraian yang sulit, aku dan dua saudaraku tinggal bersama ibu kami. Setelah perceraian, ibuku sepenuhnya beralih kepada Allah (MashaAllah) dan rajin dalam berdoa, bahkan berusaha berdoa saat di tempat kerja jika bisa. Tapi, aku dan saudaraku pelan-pelan menjauh dari doa rutin. Kami berhenti berdoa dan bahkan bilang ke ibu kalau kami sudah berdoa padahal enggak. Setiap kali aku bohong soal itu, rasanya pengen banget nangis. Ini sulit dan aku merasa sangat bersalah padanya - dia sudah melalui banyak hal. Saudaraku yang lebih muda basically udah ninggalin iman tapi belum bilang ke ibu. Saudaraku yang lebih tua berusaha berdoa tapi bilang mereka udah enggak merasa koneksi dengan Allah lagi. Aku juga sama: saat aku mencoba berdoa, aku cuma enggak merasa apa-apa. Pikiranku melayang ke gimana punggungku harus tegak atau apakah kakinya benar, dan terus ke hal-hal lain. Ibu selalu ngomong tentang gimana berdoa bikin dia merasa ringan dan diberkati telah menemukan cara hidup ini. Dan aku duduk di situ mengangguk, tahu harapannya untuk memiliki rumah tangga Muslim yang utuh perlahan memudar. Ketika kami coba bilang dengan lembut bahwa kami merasa jauh dari Allah, dia berusaha untuk berbicara dengan kami dan mendorong kami kembali ke iman, enggak mau menerima kenyataan bahwa kami merasa terputus. Ibu baik dan lembut kepada kami, tapi ketika ngomong soal Islam, dia sangat berkomitmen dan mau kami juga begitu. Hatiku hancur. Setiap kali aku berusaha kembali ke doa, aku sadar bahwa aku lebih banyak melakukannya untuk ibuku, bukan untuk diriku sendiri atau untuk Allah, dan itu bikin rasanya kosong. Aku enggak tahu bagaimana mengubah itu - aku sudah banyak baca tentang cara menyambung kembali dengan Allah tapi enggak ada yang nyangkut, dan akhirnya aku menyerah. Aku berbagi ini karena aku enggak tahu harus berbuat apa dan merasa terombang-ambing antara ingin meringankan rasa sakit ibuku dan ingin memiliki hubungan yang tulus dengan Allah.

+207

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan kasih sayang. Perasaanmu itu sah. Mungkin bicaralah dengan seorang imam perempuan atau konselor yang memahami keimanan yang mengambang tanpa menghakimi. Kadang-kadang, suara baru lebih membantu daripada tekanan dari keluarga.

+18
Diterjemahkan otomatis

Jujur, berhenti bohong sama ibu kamu - itu bikin kamu menderita. Bilang sama dia kalau kamu lagi berjuang dan minta kesabaran. Dia lebih mencintaimu daripada penampilan, aku rasa. Dan coba berdoa sendirian tanpa harapan, cuma untuk latihan.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kamu boleh untuk mempertanyakan dan merasa jauh. Iman itu bukan jalur yang lurus. Cobalah untuk terhubung kembali lewat hal-hal yang menggerakkanmu - bacaan Quran, alam, amal. Tindakan kecil yang tulus bisa membangun perasaan, bukan kesempurnaan instan.

+5
Diterjemahkan otomatis

Aku ada di perahu yang sama. Dulu aku suka merenungkan setiap gerakan dalam doa dan merasa semua itu palsu. Yang membantuku adalah fokus pada satu kalimat doa dan maknanya, bukan posisinya. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, cewek.

+9
Diterjemahkan otomatis

Ini sakit dibaca. Saran saya: jujurlah pada ibumu ketika kamu bisa, dengan lembut. Dia mungkin akan sedih tapi dia mencintaimu; menyembunyikannya terasa lebih buruk dalam jangka panjang. Dan coba berbagai jenis ibadah - dzikir, mendengarkan Quran - bukan hanya doa formal.

+3
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam. Aku udah pernah di sana - berpura-pura shalat demi menjaga kedamaian itu memang berat. Mungkin mulai dari yang kecil aja, cuma dua raka’at tanpa tekanan. Langkah-langkah kecil membantuku untuk perlahan-lahan terhubung lagi. Kamu nggak jadi anak yang buruk karena kesulitan, kamu cuma manusia.

+15

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar