Ada nggak saudara atau saudari Muslim yang autis di sini? Assalamu alaikum
Assalamu alaikum. Saya didiagnosis dengan autisme level 1, dan akhirnya saya mengerti kenapa mengikuti beberapa praktik Islam itu sangat sulit bagi saya. Saya ingin berbagi pengalaman saya dan lihat apakah ada orang lain yang bisa memahami atau punya saran. Masalah utama: Saya nggak bisa, tak peduli seberapa keras saya mencoba, untuk menjaga lima waktu salat secara konsisten. Saya jadi Muslim tiga tahun yang lalu dan ini udah jadi perjuangan batin yang terus berlangsung. Saya tahu betapa pentingnya salat, dan saya merasa sangat bersalah karena nggak bisa mengelolanya. Karena saya punya kekakuan kognitif yang kuat dan butuh rutinitas yang tetap, mencoba untuk memasukkan salat ke dalam hari saya bikin semuanya berantakan. Saya hidup dengan cara yang sama setiap hari karena itu bikin saya tenang dan dapat diprediksi. Ketika saya mencoba mengubah pola itu untuk waktu salat, semuanya dalam diri saya jadi terganggu. Pertama: Saya bener-bener benci diinterupsi saat saya sedang melakukan sesuatu. Orang neurotipikal mungkin nggak paham betapa melelahkannya fokus pada suatu aktivitas lalu tiba-tiba dipaksa berhenti dan berganti tugas. Rasanya bisa jadi menyakitkan secara fisik, dan saya jadi kesal dan marah. Ketika saya pergi untuk salat, saya sering merasa sangat negatif, jadi salat jadi beban daripada tindakan yang damai. Kedua: Ketidakpastian jadwal. Saya berusaha untuk mengantisipasi setiap hal aneh yang bakal terjadi di hari saya, dan itu bikin saya banyak cemas. Saya terus mengecek jam dan mempersiapkan diri mental untuk waktu salat berikutnya, dan persiapan itu sangat melelahkan. Kadang saya bisa bertahan beberapa hari, tapi selalu berakhir sama: saya nggak bisa mempertahankannya dan akhirnya mengalami kejatuhan. Ramadan terutama sulit untuk saya. Kelebihan sensorik dan perubahan besar dalam rutinitas - lapar, haus, panas, waktu yang berbeda - bikin semuanya terasa tak tertahankan. Juga frustrasi untuk menjelaskan ini kepada orang-orang yang nggak mengalami perjuangan ini. Seorang sheikh pernah bilang saya cuma malas ketika saya minta bantuan dengan kesulitan salat, yang bikin sakit. Sekarang setelah saya memahami diagnosis saya lebih baik, ini jadi lebih masuk akal bagi saya. Kalau ada saudara-saudari Muslim lain di luar sana yang punya autisme atau pengalaman serupa, gimana caranya kalian mengatasi ini? Ada tips praktis untuk bikin salat dan Ramadan lebih mudah dikelola sambil tetap tulus? Jazākallāh khayr sudah mendengarkan.