Apakah saya benar untuk berbicara kepada keluarga saya? (Salam)
Assalamu alaikum - Aku butuh saran yang jujur. Ibuku dan saudara-saudariku, jujur saja, kayaknya kebanggaan mereka udah kelewatan. Kami ada sekitar delapan orang tinggal di rumah, tapi hanya adik perempuanku dan aku yang bertanggung jawab untuk bersih-bersih, dan ini udah bikin aku gila. Masalah utamanya selalu soal pekerjaan rumah. Ibuku menganggap mencuci piring atau membereskan rumah itu ya udah biasa banget, dan seringkali meremehkan keluhan kami seolah-olah itu cuma anak kecil yang mengeluh. Tapi masalahnya bukan apakah seseorang bisa mencuci piring sekali - tapi apakah mereka bisa melakukannya setiap hari ketika mereka tahu orang lain selalu membersihkan setelah mereka. Ibuku juga udah meyakinkan saudara laki-lakiku bahwa mereka entah bagaimana lebih tinggi dari perempuan di rumah, dan aku nggak paham. Suatu kali dia bikin aku begadang sampai jam 1 pagi untuk bersih-bersih di basement. Aku bilang aku nggak mau karena besoknya ada sekolah, dan kakak laki-lakiku yang udah dewasa bilang, “Bukankah itu sebabnya kamu lahir?” Sayangnya, kakak-kakak perempuanku juga ikut percaya sama sistem ini. Mereka nggak diperlakukan sama begitu mereka lebih besar, jadi sekarang mereka bertindak kayak kakak laki-laki - kadang malah lebih buruk. Keadaannya malah makin parah buat aku. Bahkan di hari-hari saat aku puasa, aku diharapkan untuk melakukan semua pekerjaan rumah. Ketika aku bilang aku bakal melakukannya setelah berbuka puasa, aku dilempar turun tangga karena “ngomong balik.” Mereka nunggu aku pulang dari sekolah dan kemudian bilang suruh bersih-bersih, dan kalau aku menolak mereka coba untuk memukul aku atau bikin suasana jadi menderita. Aku merasa kayak nggak ada yang ada di pihakku. Di keluargaku mereka bersatu melawan aku dan adik perempuanku saat aku udah capek dari sekolah atau kerja. Aku 17 tahun, dan ini bikin aku merasa hancur. Aku udah coba minta saran, coba bicara, protes, bahkan nangis ketika menjelaskan betapa terluka aku, tapi mereka cuma tertawa. Beberapa malam aku pergi tidur berharap kalau aku dilahirkan di keluarga yang berbeda atau sama sekali nggak dilahirkan. Aku bener-bener nggak punya harapan sekarang. Satu-satunya yang bikin aku terus bertahan adalah aku lulus tahun ini dan berharap bisa tinggal di asrama untuk tahun pertama kuliah. Aku udah berhenti bicara dengan satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki karena cara mereka memperlakukanku. Tolong deh, saudara-saudara, ada saran dari perspektif Islam tentang bagaimana cara menghadapi ini? Gimana aku bisa membela diriku dengan cara halal, tetap sabar, dan melindungi kesehatan mentalku sampai aku bisa pindah?