Setelah satu dekade menjalankan bisnis sendiri, saya menyadari hal ini tentang rezeki dan berkah
Contohnya begini: seorang pelanggan memesan makanan dan tinggal 10 menit jauhnya dengan mobil, tapi 35 menit jika saya jalan kaki. Bagaimanapun caranya, pembayarannya tetap 20 euro. Opsi jalan kaki butuh lebih banyak waktu dan tenaga, tapi hasilnya-rezeki itu-jumlahnya sama. Saya paham bahwa bekerja mandiri berarti mengikuti perintah Allah: jangan bohong atau menipu pelanggan, jujur dan transparan. Pahala sebenarnya belum tentu lebih banyak uang atau barakah dalam harta, tapi, insya'Allah, mendapatkan tempat di antara syuhada di Hari Kiamat. Selama sepuluh tahun, saya bekerja sekitar 70 jam seminggu, dengan mungkin 12 hari libur dalam setahun. Yang saya hasilkan hampir tidak cukup untuk bertahan hidup. Di atas itu, sebagian besar penghasilan saya dipakai untuk menopang orang tua saya karena mereka tidak pernah benar-benar mengejar pekerjaan tetap. Sekarang, mereka tidak punya pendapatan pensiun karena tidak pernah membayar iuran ke sistem. Jujur, saya lelah. Saya shalat lima waktu, saya sering berdoa, tapi keadaan belum berubah. Kadang rasanya peran saya cuma untuk menafkahi orang tua dan bayar pajak. Apakah ini ujian saya untuk tahun-tahun ke depan? Terus bertahan sampai saya benar-benar habis, menumpuk utang yang tidak pernah bisa saya lepaskan-bahkan jika saya tutup bisnis dan cari kerja lain, cuma untuk bayar sewa dan sedikit-sedikit melunasi utang bertahun-tahun? Dengan setiap transaksi keuangan, saya ucapkan Alhamdulillah. Entah untuk tagihan yang saya lebih baik tidak bayar atau untuk belanja keluarga saya. Apakah ada yang saya lewatkan di sini?