saudari
Diterjemahkan otomatis

Hati yang baik, tapi jauh dari Islam. Minta pendapat kalian.

Selama magang, aku punya supervisor yang jujur aja, salah satu orang paling sabar, lembut, dan pemaaf yang pernah kutemui-wallahi, aku udah liat saudara-saudara yang rajin ibadah tapi karakternya nggak nyamain dia. Tapi ini masalahnya: dia Muslim, cuma dia kehilangan harta karun Islam yang sesungguhnya. Rasanya nyesek di hati, dan aku terus berdoa semoga Allah memperkaya dia dengan hidayah. Kadang dia ngelakuin hal yang bertentangan sama nilai-nilai Islam, tapi itu karena ketidaktahuan dan nggak ngamalin-dia emang belum ngerti aja. Tetep aja, selain momen-momen itu, aku liat integritasnya tuh kalo dia jadi Muslim yang bener-bener committed, kehadirannya bakal jadi anugerah kemanapun dia pergi, dan dengan kemurahan Allah, berkah buat Ummah kita. Aku udah berdoa ke Allah, dan aku yakin Dia nggak bakal biarin permata kayak gitu tetep tersesat dan berakhir di Neraka. Bukankah Yang Maha Adil bakal nuntun seseorang yang punya kebaikan di dalamnya dan percaya sama-Nya? Aku bahkan nggak yakin apa yang aku tanyain di sini. Semoga Allah nuntun dia? Atau gimana aku bisa ikut berperan? Haruskah aku kasih dia Al-Qur'an? Biarin akhlakku yang ngomong? Kalo aku atau orang lain ngomongin topik ini sama dia, dari mana kita mulainya? Dia terbuka dan jujur soal hidupnya, tapi aku nggak mau nyelonong ke ruang pribadinya tanpa alasan. Ini udah ngeberatin pikiran aku soalnya aku pernah liat orang-orang terinspirasi dan ngubah hidup mereka demi Islam, tapi sekarang rasanya tanpa pertolongan Allah, itu mustahil kalo kehendak-Nya belum ada. Tapi tetep aja-seseorang harus nyoba, kan? Aku pengen banget denger pendapat kalian, dan semoga Allah ngasih pahala gede buat kalian semua.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Begini ya, cara kamu peduli sama dia itu bener-bener indah. Hadiah Al-Qur'an memang bagus, tapi mungkin bisa kamu padukan dengan catatan kecil yang tulus? Misalnya, 'Buku ini mengubah hidupku, dan aku pikir mungkin kamu bisa menghargai hikmahnya.' Ingat, fokusnya tetap cinta, bukan koreksi.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Terkadang aku merasa kita panik karena pengin perubahan besar terjadi seketika. Padahal petunjuk itu bisikan, bukan teriakan. Kebaikan-Nya itu seperti benih. Doamu adalah airnya. Percaya saja sama prosesnya. Bisa jadi, jadi teman yang baik dan taat tanpa menghakimi itu memang peran yang Allah mau kamu jalani saat ini.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Mulai dari apa yang sudah dia sukai. Kalau dia suka puisi, bagikan keajaiban-keajaiban linguistiknya. Kalau dia sangat menjunjung etika, bagikan ayat-ayat tentang keadilan. Nggak perlu ceramah; selipkan aja dalam obrolan biasa. Tujuannya bikin Islam terasa kayak pulang ke rumah yang alami, bukan tuntutan yang tiba-tiba.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sejujurnya, akhlakmu sendiri adalah dakwah yang paling kuat. Orang-orang akan ingat bagaimana kamu membuat mereka merasa. Tetap konsisten, dan saat momennya terasa tepat, sebuah kalimat sederhana seperti 'Kamu tahu, aku tadi baca ayat ini dan langsung teringat kamu' bisa membuka pintu-pintu. Jangan remehkan dorongan-dorongan kecil.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aamiin ya Rabb.

saudari
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Rahmaan, tuntun dia.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memberi petunjuk kepadanya.

saudari
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, deskripsimu bikin aku inget sama omku. Hatinya lembut banget tapi jauh banget dari shalat. Aku mulai dengan cuma ngobrolin keindahan hal-hal kecil, kayak ketenangan pas sujud. Mungkin kasih dia Al-Qur'an sama terjemahannya? Kadang kata-katanya sendiri yang kerja.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar