Muktamar ke-35 NU: Muncul Poros Babussalam, Pertaruhan di Pleno Tatib Pemilihan
Polarisasi menjelang puncak Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang semakin mengeras. Di tengah pertarungan antara petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan pendukung KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), muncul poros Babussalam yang mengusung jalan tengah (tawassuth). Poros ini diinisiasi sejumlah kiai pengasuh pesantren besar sebagai respons atas kekhawatiran terhadap konfrontasi yang kian kuat di arena muktamar maupun pasca-muktamar.
Poros Babussalam membawa aspirasi untuk tidak mempertahankan konfigurasi kepemimpinan yang dinilai menjadi pusat konflik, yakni Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Gus Yahya. Munculnya poros ini terkait dinamika yang menguat, termasuk dugaan intimidasi dan praktik tidak etis dalam proses penjaringan. KH Asep Saifuddin Chalim menyampaikan klaim adanya arahan memilih nama tertentu dengan imbalan uang, meski hal ini belum terbukti secara independen.
Sidang Pleno pembahasan tata tertib pemilihan menjadi sangat krusial. Perbedaan pendapat muncul antara kubu yang menginginkan proses penjaringan AHWA dibuka kembali secara bebas dan rahasia, dan kubu yang tetap mengacu pada hasil penjaringan sebelumnya. AHWA memiliki posisi strategis karena akan menentukan Rais Aam sebelum pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Jika dua kubu utama memiliki basis suara yang kuat, poros Babussalam berpotensi mengubah kontestasi menjadi tiga arah. Muktamar tidak hanya akan menentukan siapa Ketua Umum dan Rais Aam, tetapi juga apakah NU memilih kesinambungan, perubahan melalui salah satu kubu, atau jalan ketiga melalui poros tawassuth. Jawabannya sangat ditentukan dalam sidang-sidang pleno yang menjadi pintu menuju keputusan tertinggi malam ini.
https://kabarbaik.co/muktamar-